Berikut kondisi terbaru IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah eskalasi perang antara Iran dan Amerika Serikat/Israel pada awal Maret 2026:
📉 Pergerakan IHSG
📉 Pada 2 Maret 2026, IHSG ditutup turun tajam sekitar 2,5 – 2,65 % ke level sekitar 8.016 – 8.029 poin akibat sentimen risiko dari konflik AS–Iran yang memicu kekhawatiran investor global dan lonjakan harga minyak. Mayoritas saham bergerak turun, sementara hanya sektor energi yang relatif menguat karena kenaikan harga komoditas energi. (Investing.com Indonesia)
📉 IHSG sempat terjun bebas sejak pembukaan pagi hingga sesi sore perdagangan, bahkan di beberapa sesi turun lebih dari 1 – 2 % dalam satu hari perdagangan karena aksi jual massal dan net sell asing yang meningkat. (Investing.com Indonesia)
📉 Pada 3 Maret 2026, konflik yang masih berlanjut menyebabkan IHSG kembali melemah, turun sekitar 0,96 % ke area 7.900-an, karena tekanan risiko geopolitik yang terus memengaruhi pasar saham Asia dan nilai tukar rupiah. (IDN Keuangan)
📊 Faktor-faktor yang Memengaruhi IHSG
📌 Sentimen global "risk-off" — investor cenderung menjauhi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang dianggap aman (safe haven) seperti emas dan obligasi ketika perang meningkat. (Antara News)
📌 Harga minyak dan energi meningkat tajam akibat ancaman gangguan pasokan di jalur Selat Hormuz — hal ini mendorong saham energi domestik cenderung bertahan lebih baik sementara sektor lain tertekan. (IDN Financials)
📌 Tekanan jual asing di pasar domestik memperberat penurunan IHSG, terutama pada saham-saham big caps. (Pusat Data Kontan)
📉 Pergerakan Sektoral
✔️ Sektor energi justru menunjukkan kekuatan relatif karena kenaikan harga komoditas, sehingga saham-saham energi besar di BEI tidak sebesar menurun seperti sektor lain. (IDN Keuangan)
❌ Mayoritas sektor lain termasuk konsumer non-primer, industri, properti, dan teknologi, mencatat penurunan signifikan. (Investing.com Indonesia)
📍 Dampak Lainnya
Bank Indonesia (BI) terus memantau pasar dan berupaya stabilkan nilai tukar rupiah yang juga melemah akibat tekanan geopolitik. (Tempo.co)
Sentimen global dan meningkatnya ketidakpastian membuat banyak analis menyarankan investor bersikap hati-hati dan memilih strategi defensif sementara. (RRI)
Pasca konflik Iran–Amerika Serikat/Israel awal Maret 2026, IHSG mengalami koreksi signifikan dan volatilitas tinggi. Indeks sempat turun lebih dari 2 %, menembus di bawah level psikologis 8.000, dan mengalami tekanan lanjutan pada sesi berikutnya karena sentimen global negatif. Meskipun sektor energi terlihat relatif kuat, mayoritas saham di BEI masih berada di zona merah karena investor global mengurangi risiko di tengah ketidakpastian geopolitik.